At Men's Barber shop (read: tukang cukur)
S(Stranger)
: "Neng, lagi baca buku apa?" *sambil melihat buku yang sedang
aku baca*
A (Aku)
: "Oh, ini Pak judulnya Indonesia Mengajar :)"
S
: "Cerita tentang apa itu?" *sambil menerima buku tersebut
dariku*
A
: "Jadi
tentang para pengajar muda yang ditempatkan di pelosok daerah di Indonesia
untuk mengajar, menjadi guru. Meski profesi mereka memang bukan guru. Itu teh ada 51 orang, hasil seleksi dari
ribuan pendaftar."
S
: “Ooh, tadi
saya tertarik pas, lihat ada judulnya yang ini, ‘Saya belajar maka saya ada’.
Kayak filosofi apaa gitu. Ini kalau yang ini ceritanya tentang apa?”
A
: “Oh, kalau
yang ini ceritanya tentang dia kan di tempatkan di Tulang Bawang Barat. Ketika
dia mengajar, dia sadar sepenuhnya kalau banyak kekurangannya sebagai guru,
seperti misalnya ada anak didik yang nanya suatu hal, dia harus googling dulu. Terus dia juga cerita tentang
masalah-masalah yang timbul ketika ngajar. Nah kesimpulannya pokoknya sekalipun
dia guru tapi dia bukan malaikat, dia juga masih belajar, termasuk di tempat
itu sebagai guru, dia masih belajar.”
S
: “Hmm, saya ingat filosofi gitu saya lupa lagi,
tapi pokoknya gitulah ada kata- kata ‘saya belajar maka saya ada’ dulu saya
kurang ngerti maksudnya apa. Eh, ada ketertarikan ya pengen kayak gini?”
A
: “Hehe, gitu sih. Tapi pas baca ini bener-bener bikin kita sadar kalau
pendidikannya masih jauuuh banget. Bedaa banget sama kita.”
S
: “Iya apalagi dibandingkan sama Jawa, pendidikan kita paling bagus.”
A
: “Bahkan bukan cuma itu, di beberapa daerah listrik apalagi internet sama
sekali ngga ada. Terus untuk pendidikan pun mereka kurang sadar akan pentingnya
belajar.”
S
: “Ya memang seperti itu, dulu Bapak pernah yah tinggal di Sulawesi Selatan.
Bapak kan suka kayak gitu lah, ngajar. Disana juga sama, anak-anak itu kurang
suka belajar, mereka pengennya main terus.”
A
: “Terus juga emang sih fasilitas buat
belajar yang ada juga kan jauh banget sama kita.”
S
: “Terus apalagi katanya cerita di buku ini?? Mungkin sama juga ceritanya kayak
Bapak.”
A : “Hmm, ternyata yang kurang peduli sama pendidikan itu bukan Cuma anak-anaknya
tapi, orangtuanya pun sama, ngga mendukung anak untuk belajar.”
S : “Iyaa sama, orangtua itu ya mungkin kalau dari 100 orang hanya 3 orang yang
bener-bener sadar pendidikan.”
A : “Kebanyakan dari mereka, biasanya ngga ke
sekolah soalnya disuruh ngebantu orangtua kerja.”
S : “ Iya jadi mereka itu tahunya, pokoknya kalau rumahnya deket laut atau
sungai, si anak harus bisa mancing ikan, kalau daerah yang subur, ya harus bisa
bertani. Ya gitu.”
A : “ Iyaaa.”
S : “ Pokoknya ya kalau
pengen yang kayak gitu, buatlah mereka suka sama belajar, suka aja. Terus nanti buat mereka
rajin belajar.”
A
: “ Iya Pak, hehe.” Menyukai
belajar.
Itulah kurang lebih
percakapanku dengan seorang bapak paruh baya yang lagi menunggu gilirannya
untuk dipotong rambutnya. Alhamdulillah, kemarin sore saat aku harus mengantar
dan menunggu adikku untuk memotong rambutnya, aku justru mendapat suntikan
semangat untuk salah satu mimpiku. Begitulah, Allah selalu memberi kejutan
kecil yang menyenangkan.
Awalnya merasa awkward juga membaca buku di tengah
semi-ramainya tempat cukur itu, cowok semua pula. Namun, tiba-tiba aku teringat
tentang kebiasaan orang Jepang yang suka membaca dimanapun kapanpun, misalnya
kalau lagi menunggu bis atau kereta ataupun ketika mereka berada dalam
perjalanan di kendaraan umum. Pantas saja Jepang termasuk negara maju. Aku
pikir, kalau Indonesia pengen maju, salah satu yang harus dijadikan kebiasaan
masyarakat sekarang ini adalah banyak membaca. Dan aku coba kebiasaan ‘membaca
buku di kala menunggu’. Hehe.
Tuh bener kan, baru aja
berpikir hal positif tentang kebiasaan membaca, ternyata langsung dipertemukan
dengan seseorang yang tertarik dengan apa yang aku baca. Coba kalau aku nggak
membuka buku itu? Yah, mungkin percakapan ini nggak akan pernah ada dalam salah
satu sudut memoriku, hehe. Alhamdulillah :)
Jadi, ayo biasakan membaca buku
untuk Indonesia yang berwawasan luhur!!
Nb : Setelah adikku selesai
dipotong rambutnya, saat itu juga bapak tersebut mendapat gilirannya. Aku
berpamitan pulang. Saat itu aku –mungkin juga bapak tersebut—baru menyadari
kalau dari tadi kita becakap-cakap seru tanpa tahu satu sama lain. Tapi
hal itu bukan masalah. Hello stranger, Sir! :p
* I hope someday I'll meet
other good strangers again. Aamiin^^ *
No comments:
Post a Comment