Pro
-
Bisa
mengubah kebijakan yang tidak bijak.
-
Dalam
LKM-PM day 3:
Kata
pemateri, kang Yoga
“jangan
dipisahkan antara ilmu akademisimu dengan aksimu, kita harus memahami realitas
politik juga.”
Teteh
(entah siapa namanya lupa lagi)
“Kalau ada satu semut kemungkinan besar nggak
akan nyadar ada semut tapi kalau semutnya bergerombol banyakan kita pasti
sadar. Nah alasan kenapa demo juga gitu. Kalau sendiri, dengan caramu sendiri,
kemungkinan besar, mereka mengacuhkanmu
Kalau banyakan, pemerintah pada akhirnya akan sadar, mendengarkan, dan
mungkin mempertimbangkan.”
Saat itu
aku mengangguk-ngangguk, mendapat pencerahan untuk menjadi kaum pro.
-
Hadist
Rasulullah Saw. “ Jihad yang baik adalah menasehati pemimpin yang dzalim.”
Salah
satu caranya ya dengan aksi demonstrasi.
-
Jadilah
mahasiswa kritis. Yang dikritisi kebijakannya kok, bukan pribadinya. ~ Kang
Dudi dalam acara LAMDA.
Kontra :
-
Hasil
diskusi dengan salah satu teman seangkatan.
“Demo
itu lebih banyak mudharatnya. Banyak yang menyiksa atau melukai diri sendiri,
padahal itu jelas-jelas dilarang oleh Allah. Rasulullah Saw juga waktu itu
nggak kayak gitu.”
-
Percakapan
antara ibu dengan aku yang dulu masih belum merasakan tidak dibijaki
kebijakan. Masih bertaya-tanya buat apa demo, pengetahuanku tentang demo hanya
sebatas aksi turun di jalan dan berkoar-koar di depan gedung DPR (bahkan sampe bakar ban
segala.)
Ibu :
Neng, nanti pas udah jadi mahasiswa mah jangan suka ikut-ikut demo ya
Aku (yg
dulu) : Yaiyalah bu, masa iya aku ikut demo, nanaonan. Emang kenapa gitu Bu?
Ibu : Ngga
sih.
-
Dalam
salah satu acara bukber BeMath, ada satu kakak tingkat yang ikut.
Kami
(BeMath) : Kang suka aksi turun ke jalan nggak? Kayak demo gitu.
Akang :
Suka.
Kami :
Demo gitu Kang kan?
Akang :
Iya gini, aksi. Kalau ke dir. Akademik, ‘pak kami dari tim olimpiade, mau
bicara pak!’ Gitu..
Aku :
... Hah?
Akang
: Iya, akang mah ga suka yang kayak
turun ke jalan gitu-gitu mending langsung aja. Kan keren gitu tim olimpiade
misalkan dateng langsung ke rektor atau dekannya, ngobrol-ngobrol, terus nanti
akhirnya mengemukakan kritikan.
Aku :
*baru paham*
-
Beberapa
bulan yang lalu pas lagi hangat-hangatnya pembicaraan mengenai UKT dan
kegalauannya.
Aku :
Bu, aku udah nulis surat buat kampus, tentang UKT, tenang we, sopan kok, cuma
pengajuan keberatan sama nanya-nanya sesuatu yang masih ganjil. Boleh ya
dikirimin?
Ibu :
Kemana?
Aku : ke
emailnya, udah tahu kok.
Ibu :
Bukan kenapa-kenapa, kalau kata ibu mah gini. Emang dede siapa? Jadi mahasiswa
aja belum resmi. Cuma calon mahasiswa baru.
Intinya, aku
harus menjadi ‘seseorang’ terlebih dahulu.