Greeting From Blog Owner

Annyeong haseyo ^^

Selamat datang di blogku !! *bow*


Hope you enjoy !!


Sunday, June 23, 2013

Suguhan yang Luar Biasa!

Aku yakin Allah selalu memberi yang terbaik untukku. Terutama dalam mengajariku pelajaran berharga melalui cara-Nya yang selalu mengagumkan dan tak tertebak seperti sinetron. Allah pun yang Maha Pengasih, selalu tahu cara terbaik membangkitkan intensitas semangat yang kadarnya kadangkala menurun, curam malah.
Salah satunya, seperti siang itu. Saat aku berdiri diantara ribuan orang, mahasiswa baru, di depan gedung BAAK, tempat untuk registrasi. Aku harus menunggu 1372 orang terlebih dahulu sebelum aku bisa men’daftar ulang’kan diriku. Oke, aku kalah memang, kalah pagi dengan teman-temanku yang lain, padahal aku datang setengah jam lebih dulu dari jadwal yang ditentukan. Aku sempat mengira-ngira jam berapa orang yang mendapat urutan pertama registrasi itu tiba disini, mungkin seusai solat Subuh? Entahlah Wallahualam.
Namun takmengapa, toh dengan banyak menunggu  diluar gedung ini, aku bisa banyak berkenalan dengan mahasiswa baru lain. Bukan cuma itu, mataku disuguhi pemandangan bangunan gedung- gedung bertingkat sekitar 4-6 lantai dan pohon yang banyak berjejeran di sepanjang jalan juga di sekitar gedung. Tanpa polusi udara dan suara dari motor! Belum lagi, udara sejuk dan angin sepoi-sepoi yang kontras sekali dengan cuaca siang ini.  Ah, Subhanallah, tempat ini, insyaAllah akan menjadi bagian dari saksi bisu-ku dalam kamus ‘Ways to reach my dreams’.
Yang aku tahu, hari itu, kakak tingkat memang diliburkan, karena banyak gedung di universitas ini yang dijadikan lokasi pelaksanaan SBMPTN (ajang kompetisi merebut kursi PTN yang sedang diikuti teman-teman seperjuanganku yang lain). Namun, entah mengapa pagi itu aku banyak melihat orang yang mengenakan jas almamater berwarna biru kampusku. Sedang apa mereka disini? Bahkan kalau nggak salah keesokkan harinya mereka ada jadwal UAS lagi.
Pertanyaan itu pun segera terjawab.  Setelah menanyakan teman-teman yang lain yang telah registrasi, mereka ternyata nggak dibiarkan pulang begitu saja. Mereka mendapat ‘penyambutan’ dari kakak jurusannya masing-masing. Oh oke. Dan saat itu aku benar-benar menyesal nggak datang pagi buta! You know, I can hardly find a friend in a same study program! But.. well, apa mau dikata?
Namun, penyesalan itu nggak lama, ada hal yang membuatku merasa beruntung karena masih harus menunggu. Siang itu kami disuguhi sebuah pertunjukkan. ‘Hiburan’ tentunya. Dari kakak tingkat universitasku. Hiburan yang membuatku banyak berpikir dan merasakan. Aksi demonstrasi. Demo UKT.
FYI, U-K-T itu Uang Kuliah Tunggal, kebijakan pemerintah yang baru untuk pembayaran biaya mahasiswa PTN dengan menghilangkan uang pangkal namun dibebankan pada uang semesteran. Pemerintah juga menyalurkan dana BOPTN untuk menutupi kebutuhan universitas sehingga biaya yang dibebankan pada maba akan semakin rendah, namun nyatanya tidak untuk nasib kami, nasib sebagian besar teman-teman lain, yang ada ‘harga’nya kini kian.. melambung.
Oke, balik lagi.
Tolong jangan membayangkan aksi yang kerap banyak ditayangkan di layar kaca ketika BBM naik atau saat koruptor merajalela. Apalagi bayangan seperti kerusuhan Mei 1998. No, itu kejauhan. Oke berlebihan. Ini kombinasi orasi, musikalisasi puisi, paduan suara dan drama.  Atau aku namai ini, ‘Aksi Demo UKT dalam Sastra’. Aksi kritis yang nyeni dan lebih bermartabat.
Sejauh yang aku tangkap dari pertunjukkan ini, pertamanya salah satu dari mereka orasi sambil diperagakan layaknya drama yang selalu kutonton saat pentas seni di SMA. Lalu satu per satu ‘unjuk’ opini dirinya. Ada yang sama orasi juga, kebanyakan dari mereka sih membaca puisi. Terkadang saat pembacaannya pun diberi ‘backsound’ oleh temannya yang lain. Puisi dan pembacaannya pun nggak ecek-ecek. Adorable, I think. Pokoknya, saat itu aku harus memasang konsentrasi penuh, memfokuskan telinga agar dapat sebanyak-banyaknya menanggapi setiap kata yang terlontar. Lalu aku alihkan isi puisi tersebut untuk disimpan baik-baik di bagian pikiranku yang lain. Puisi-puisinya, sekali lagi, ‘berat’. Setiap kata mengadung makna, setiap kalimat bak berbilik-bilik, sulit dicerna apa yang dimaksud. Kalau hanya mendengar sekali itu, aku hanya bisa mengambil kesimpulan keseluruhan puisi-puisi tersebut. Kekesalan atas ketidaktransparan UKT. Ketidak adilan, kemahalan, kekrisisan kepribadian bangsa dan pendidikan Indonesia yang nasibnya entah mau dibawa kemana.
I was impressed.
Aku juga suka cara mereka mempertunjukkan aksi ini. Mereka tegas, serius namun sempat diselingi ngegaring *jadi inget temen-temen di kelas :p*. Mereka nyantei, apa adanya, free, namun tetap pada prinsip. Mereka tak berlebihan, sopan, dan menghibur. Bahkan aku sempat mengira kalau ini promosi anak teater, hehe. Well, just the way they are.
Baru kemarin-kemarin, pada suatu malam, masalah ini sempat menggelayuti pikiran kami sekeluarga. Aku sadar, aku nggak sendiri. Allah selalu mengirim orang untuk menemani. Alhamdulillah, bukan hanya aku saja yang merasa treated unfairly, tapi banyak bahkan kakak tingkat… Eh, tunggu! Bahkan aku baru sadar, mereka (read: kakak tingkat) sebetulnya tidak dibebani masalah UKT ini. Ya, UKT memang nasib bagi ‘pejuang Indonesia’ tahun ajaran 2013. Lantas untuk apa mereka bersusah-payah seperti itu?
Well, I found it in myself. Ini namanya empati dan solidaritas. Ini bukan aksi demo semata. Ini mungkin kata lain dari bentuk kasih-sayang kakak tingkat pada kita, padaku, mahasiswa baru. Aku bahkan meragukan diriku sendiri, apakah aku rela berkoar-koar di depan banyak orang tak dikenal, dibawah paparan sinar matahari pukul sebelas, menanggung risiko hanya untuk membela hak-hak orang lain yang belum aku kenal seperti kakak-kakak itu?
Aku terharu.
Pertunjukkan ini diakhiri dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya secara serempak setelah sebelumnya kakak tersebut meminta penonton yang mengaku ‘mencintai Indonesia’ untuk berdiri. Paduan suara dadakan di depan gedung BAAK ini sukses membiusku untuk tenggelam dalam keharuan yang menyeruak. Aku memandang beribu pasang bola mata, sejurus didalamnya, visi pejuang pendidikan Indonesia yang diwariskan tak pernah betul-betul padam.
‘Hiburan’ diluar dugaan ini memberi dua poin : memotivasi kita untuk lebih kritis dan mendorong pihak yang berwenang dalam masalah ini untuk bijak dalam melaksanakan kebijakan. Dan juga lebih menyadari bahwa bangsa kita memang sudah terlalu jauh terbawa arus yang hilir-mudik tak tentu arah. Kita harus mengembalikan kepribadian kita. Kita harus merdeka untuk bisa maju. Alhamdulillah! We got it. The key was.
Ini tugas baru? Ya, dan perjuangan dibutuhkan tiap detiknya. Terimakasih Allah yang menyadarkan, terimakasih kakak tingkat, terimakasih teman-teman senasib seperjuangan. Tenang, sudah ada tiga pihak yang menerangkan bahwa hal yang tidak biasa berarti luar biasa.

Bandung, 19 Juni 2013


#nb : Saat itu pun aku baru tahu, kalau tempo lagu Indonesia Raya itu nggak mendayu-dayu seperti yang biasa dinyanyikan setiap upacara hari Senin. Tapi tempo yang sebenarnya yaitu cepat dan penuh semangat yang menggebu!

No comments:

Post a Comment