Aku yakin Allah selalu memberi yang
terbaik untukku. Terutama dalam mengajariku pelajaran berharga melalui cara-Nya
yang selalu mengagumkan dan tak tertebak seperti sinetron. Allah pun yang Maha
Pengasih, selalu tahu cara terbaik membangkitkan intensitas semangat yang kadarnya
kadangkala menurun, curam malah.
Salah satunya, seperti siang itu.
Saat aku berdiri diantara ribuan orang, mahasiswa baru, di depan gedung BAAK,
tempat untuk registrasi. Aku harus menunggu 1372 orang terlebih dahulu sebelum
aku bisa men’daftar ulang’kan diriku. Oke, aku kalah memang, kalah pagi dengan
teman-temanku yang lain, padahal aku datang setengah jam lebih dulu dari jadwal
yang ditentukan. Aku sempat mengira-ngira jam berapa orang yang mendapat urutan
pertama registrasi itu tiba disini, mungkin seusai solat Subuh? Entahlah
Wallahualam.
Namun takmengapa, toh dengan banyak
menunggu diluar gedung ini, aku bisa
banyak berkenalan dengan mahasiswa baru lain. Bukan cuma itu, mataku disuguhi
pemandangan bangunan gedung- gedung bertingkat sekitar 4-6 lantai dan pohon
yang banyak berjejeran di sepanjang jalan juga di sekitar gedung. Tanpa polusi
udara dan suara dari motor! Belum lagi, udara sejuk dan angin sepoi-sepoi yang
kontras sekali dengan cuaca siang ini.
Ah, Subhanallah, tempat ini, insyaAllah akan menjadi bagian dari saksi
bisu-ku dalam kamus ‘Ways to reach my dreams’.
Yang aku tahu, hari itu, kakak
tingkat memang diliburkan, karena banyak gedung di universitas ini yang dijadikan
lokasi pelaksanaan SBMPTN (ajang kompetisi merebut kursi PTN yang sedang
diikuti teman-teman seperjuanganku yang lain). Namun, entah mengapa pagi itu aku
banyak melihat orang yang mengenakan jas almamater berwarna biru kampusku.
Sedang apa mereka disini? Bahkan kalau nggak salah keesokkan harinya mereka ada
jadwal UAS lagi.
Pertanyaan itu pun segera
terjawab. Setelah menanyakan teman-teman
yang lain yang telah registrasi, mereka ternyata nggak dibiarkan pulang begitu
saja. Mereka mendapat ‘penyambutan’ dari kakak jurusannya masing-masing. Oh
oke. Dan saat itu aku benar-benar menyesal nggak datang pagi buta! You know, I can hardly find a friend in a
same study program! But.. well, apa mau dikata?
Namun, penyesalan itu nggak lama,
ada hal yang membuatku merasa beruntung karena masih harus menunggu. Siang itu kami
disuguhi sebuah pertunjukkan. ‘Hiburan’ tentunya. Dari kakak tingkat
universitasku. Hiburan yang membuatku banyak berpikir dan merasakan. Aksi
demonstrasi. Demo UKT.
FYI, U-K-T itu Uang Kuliah Tunggal,
kebijakan pemerintah yang baru untuk pembayaran biaya mahasiswa PTN dengan
menghilangkan uang pangkal namun dibebankan pada uang semesteran. Pemerintah
juga menyalurkan dana BOPTN untuk menutupi kebutuhan universitas sehingga biaya
yang dibebankan pada maba akan semakin rendah, namun nyatanya tidak untuk nasib
kami, nasib sebagian besar teman-teman lain, yang ada ‘harga’nya kini kian..
melambung.
Oke, balik lagi.
Tolong jangan membayangkan aksi
yang kerap banyak ditayangkan di layar kaca ketika BBM naik atau saat koruptor
merajalela. Apalagi bayangan seperti kerusuhan Mei 1998. No, itu kejauhan. Oke berlebihan. Ini kombinasi orasi, musikalisasi
puisi, paduan suara dan drama. Atau aku
namai ini, ‘Aksi Demo UKT dalam Sastra’. Aksi kritis yang nyeni dan lebih bermartabat.
Sejauh yang aku tangkap dari pertunjukkan
ini, pertamanya salah satu dari mereka orasi sambil diperagakan layaknya drama
yang selalu kutonton saat pentas seni di SMA. Lalu satu per satu ‘unjuk’ opini
dirinya. Ada yang sama orasi juga, kebanyakan dari mereka sih membaca puisi. Terkadang saat pembacaannya pun diberi
‘backsound’ oleh temannya yang lain. Puisi dan pembacaannya pun nggak ecek-ecek. Adorable, I think. Pokoknya, saat itu aku harus memasang konsentrasi
penuh, memfokuskan telinga agar dapat sebanyak-banyaknya menanggapi setiap kata
yang terlontar. Lalu aku alihkan isi puisi tersebut untuk disimpan baik-baik di
bagian pikiranku yang lain. Puisi-puisinya, sekali lagi, ‘berat’. Setiap kata
mengadung makna, setiap kalimat bak berbilik-bilik, sulit dicerna apa yang
dimaksud. Kalau hanya mendengar sekali itu, aku hanya bisa mengambil kesimpulan
keseluruhan puisi-puisi tersebut. Kekesalan atas ketidaktransparan UKT. Ketidak
adilan, kemahalan, kekrisisan kepribadian bangsa dan pendidikan Indonesia yang
nasibnya entah mau dibawa kemana.
I
was impressed.
Aku juga suka cara mereka
mempertunjukkan aksi ini. Mereka tegas, serius namun sempat diselingi ngegaring *jadi inget temen-temen di
kelas :p*. Mereka nyantei, apa adanya, free,
namun tetap pada prinsip. Mereka tak berlebihan, sopan, dan menghibur. Bahkan
aku sempat mengira kalau ini promosi anak teater, hehe. Well, just the way they are.
Baru kemarin-kemarin, pada suatu
malam, masalah ini sempat menggelayuti pikiran kami sekeluarga. Aku sadar, aku
nggak sendiri. Allah selalu mengirim orang untuk menemani. Alhamdulillah, bukan
hanya aku saja yang merasa treated
unfairly, tapi banyak bahkan kakak tingkat… Eh, tunggu! Bahkan aku baru
sadar, mereka (read: kakak tingkat) sebetulnya tidak dibebani masalah UKT ini.
Ya, UKT memang nasib bagi ‘pejuang Indonesia’ tahun ajaran 2013. Lantas untuk
apa mereka bersusah-payah seperti itu?
Well, I found it in myself. Ini namanya empati dan solidaritas. Ini bukan aksi demo
semata. Ini mungkin kata lain dari bentuk kasih-sayang kakak tingkat pada kita,
padaku, mahasiswa baru. Aku bahkan meragukan diriku sendiri, apakah aku rela
berkoar-koar di depan banyak orang tak dikenal, dibawah paparan sinar matahari
pukul sebelas, menanggung risiko hanya untuk membela hak-hak orang lain yang
belum aku kenal seperti kakak-kakak itu?
Aku terharu.
Pertunjukkan ini diakhiri dengan
menyanyikan lagu Indonesia Raya
secara serempak setelah sebelumnya kakak tersebut meminta penonton yang mengaku
‘mencintai Indonesia’ untuk berdiri. Paduan suara dadakan di depan gedung BAAK
ini sukses membiusku untuk tenggelam dalam keharuan yang menyeruak. Aku memandang
beribu pasang bola mata, sejurus didalamnya, visi pejuang pendidikan Indonesia
yang diwariskan tak pernah betul-betul padam.
‘Hiburan’ diluar dugaan ini memberi
dua poin : memotivasi kita untuk lebih kritis dan mendorong pihak yang
berwenang dalam masalah ini untuk bijak dalam melaksanakan kebijakan. Dan juga
lebih menyadari bahwa bangsa kita memang sudah terlalu jauh terbawa arus yang
hilir-mudik tak tentu arah. Kita harus mengembalikan kepribadian kita. Kita
harus merdeka untuk bisa maju. Alhamdulillah! We got it. The key was.
Ini tugas baru? Ya, dan perjuangan
dibutuhkan tiap detiknya. Terimakasih Allah yang menyadarkan, terimakasih kakak
tingkat, terimakasih teman-teman senasib seperjuangan. Tenang, sudah ada tiga
pihak yang menerangkan bahwa hal yang
tidak biasa berarti luar biasa.
Bandung, 19 Juni 2013
#nb : Saat itu pun aku baru tahu,
kalau tempo lagu Indonesia Raya itu
nggak mendayu-dayu seperti yang biasa dinyanyikan setiap upacara hari Senin.
Tapi tempo yang sebenarnya yaitu cepat dan penuh semangat yang menggebu!
No comments:
Post a Comment