Greeting From Blog Owner

Annyeong haseyo ^^

Selamat datang di blogku !! *bow*


Hope you enjoy !!


Tuesday, September 09, 2014

Selepas Liburan

Rasa-rasanya baru kemarin berkunjung dan bersenang-senang ria dengan sepupu kecil di rumah-rumah saudara.
Rasa-rasanya baru kemarin untuk pertama kali setelah merantau ke ranah rantau pertama, kaki ini naik turun jalan setapak yang cukup terjal, menuju rumah nenek di desa. Bertemu sapa lagi dengan saudara se-pertalian darah namun tak terlalu banyak terlibat komunikasi dalam ‘kehidupan masing-masing’. Bercerita, pun mendengarkan cerita atau kabar perkembangan jodoh seorang paman. Haha.
Rasa-rasanya baru kemarin-kemarin bolak-balik (3 bulan holiday meeen) berjalan-jalan di kota kecil namun begitu pesat perkembangannya.
Rasa-rasanya baru kemarin, berjanjian untuk bertemu dengan salah dua kawan dekat di SMA. Lucu juga mendengar salam perpisahan kami, “Sampai jumpa tahun depan!
Ya Allah, semasa SMA kita cukup sering merancang dan mengadakan pertemuan (ya, kita berbeda kelas), kini kurunnya tahun. Meski begitu, itu perlu pun mencukupi.
Rasa-rasanya baru kemarin, begitu sering bersantai di ‘taman langit’ rumahku pada siang menuju sore, atau pula sore menuju malam.
Kini, berkutat kembali di kamar mungil di tengah pemukiman yang begitu crowded. Menyusuri jalanan padat depan kos-an yang begitu ramai – kendaraan, pedagang kaki lima, toko berbagai jenis kebutuhan, masyarakat umum, mahasiswa, siswa hingga santri dan ustadz—terutama menjelang magrib dan ba’da magrib. Ataupun menikmati ‘tontonan’ pesawat yang cukup sering melintas dari balik jendela kamar kos-ku, terutama sekitar waktu duha.
Kini, kembali lagi mengarungi aktivitas yang cukup padat di rantauan.
Bagaimanapun mimpi-mimpi ‘menagih’ janji. Amanah menanti untuk tuntas dengan senyum merekah, tanpa resah, meski lelah.
Selamat ‘membebaskan diri’ (lagi) dari salah satu comfort zone!
Ready to study, welcome sophomore year! Bismillah..

Wednesday, December 11, 2013

Religion is a gift from God, and Islam is the perfect gift one



Grateful!
Yap! Kamu harus bersyukur kalau ketika ditanya seseorang tentang “Apa agamamu?”
Kamu bisa menjawab dengan ‘percaya hati’. Bahkan berbangga hati.
Ya karena kamu yakin bahwa  kamu sedang menganut sebuah kepercayaan dan kamu melakukan ibadah yang dianjurkan.
Tapi bagaimana kalau kamu nggak punya agama? Atau nggak, kamu punya agama tapi kamu nggak yakin karena memang kamu nggak pernah atau jarang beribadah sesuai agamamu?
Beberapa bulan lalu (ketika masih di Tasikmalaya) aku dipertemukan dengan orang asal Jerman. Wanita, namanya berinisial M (untuk beberapa alasan aku tidak bisa memberitahu namanya secara langsung). Sebetulnya dia datang ke Indonesia memang karena ada kerjasama juga tugas pekerjaan selama di Indonesia.  Dia juga memang suka traveling dan menemukan pengalaman baru.
Begitulah aku dan teman-teman yang lain terlibat banyak percakapan dengan dia. Salah satunya adalah masalah agama.
“ What’s your religion?” Someone asked.
She said what’s her religion.
“ How that religion in German? Does it same with in Indonesia?”
She said that in German, actually most of them didn’t spend their time for praying. They just think about activities worldly. Some of them, maybe just about 20% who think about religion even most of them are elderly person, because they don’t have any activities expect go to ‘praying places’.
“Ho w about you? Do you always spend your time to pray?
 “ hmm, no” she said honestly.
“Actually, I’m still looking for religion… ” she said.
Masya Allah, mungkin kita harus double grateful. Kita lahir beragama, dan lahir di Indonesia. Negara yang menjunjung tinggi ibadah. Lingkungannya mendukung kita untuk beribadah sesuai agama yang dianut masing-masing dan diizinkan berkegiatan keagamaan. Sila pertama pancasila pun berbunyi “ Ketuhanan Yang Maha Esa”. Alhamdulillah!
Aku yakin, Bukan M saja yang merasakan itu.
Di luar sana mungkin banyak juga yang memiliki permasalahan seperti M. Mereka tidak tahu apa agama mereka, apa itu agama. Apalagi kalau lagi down, mereka nggak tahu harus berpegang sama siapa. Makanya bukan nggak mungkin di berbagai belahan bumi, seperti negara maju, banyak banget yang melakukan suicide karena ada  masalah berat atau bahkan di beberapa kasus ada yang alasannya karena dia nggak tahu apa yang harus dia lakuin karena dia udah punya segalanya, -menurutnya-.
Oh ya, M mungkin sedikit beruntung karena dia sekarang sedang dalam proses pencarian. Ya salah satu tujuannya traveling itu juga untuk mengenal berbagai agama. Dia bercerita tentang salah satu agama di Amerika, meski aku sendiri agak nggak ngerti karena kecepatannya dalam berbicara hehe. Lalu disini –Indonesia- dia baru mengenal Islam. Dan sedang mempelajari sedikit tentang Islam.
Jadi, jangan menyia-nyiakan agama dalam dirimu! Keep religion in your heart! Do praying !

Tuesday, November 26, 2013

Pro Kontra Demonstrasi (Me Vs Me)

Pro
-          Bisa mengubah kebijakan yang tidak bijak.

-          Dalam LKM-PM day 3:
Kata pemateri, kang Yoga
“jangan dipisahkan antara ilmu akademisimu dengan aksimu, kita harus memahami realitas politik juga.”
Teteh (entah siapa namanya lupa lagi)
 “Kalau ada satu semut kemungkinan besar nggak akan nyadar ada semut tapi kalau semutnya bergerombol banyakan kita pasti sadar. Nah alasan kenapa demo juga gitu. Kalau sendiri, dengan caramu sendiri, kemungkinan besar, mereka mengacuhkanmu  Kalau banyakan, pemerintah pada akhirnya akan sadar, mendengarkan, dan mungkin mempertimbangkan.”
Saat itu aku mengangguk-ngangguk, mendapat pencerahan untuk menjadi kaum pro.

-          Hadist Rasulullah Saw. “ Jihad yang baik adalah menasehati pemimpin yang dzalim.”
Salah satu caranya ya dengan aksi demonstrasi.

-          Jadilah mahasiswa kritis. Yang dikritisi kebijakannya kok, bukan pribadinya. ~ Kang Dudi dalam acara LAMDA.


Kontra :
-          Hasil diskusi dengan salah satu teman seangkatan.
“Demo itu lebih banyak mudharatnya. Banyak yang menyiksa atau melukai diri sendiri, padahal itu jelas-jelas dilarang oleh Allah. Rasulullah Saw juga waktu itu nggak kayak gitu.”

-          Percakapan antara ibu dengan aku yang dulu masih belum merasakan tidak dibijaki kebijakan. Masih bertaya-tanya buat apa demo, pengetahuanku tentang demo hanya sebatas aksi turun di jalan dan berkoar-koar  di depan gedung DPR (bahkan sampe bakar ban segala.)          
Ibu : Neng, nanti pas udah jadi mahasiswa mah jangan suka ikut-ikut demo ya
Aku (yg dulu) : Yaiyalah bu, masa iya aku ikut demo, nanaonan. Emang kenapa gitu Bu?
Ibu : Ngga sih.


-          Dalam salah satu acara bukber BeMath, ada satu kakak tingkat yang ikut.
Kami (BeMath) : Kang suka aksi turun ke jalan nggak? Kayak demo gitu.
Akang : Suka.
Kami : Demo gitu Kang kan?
Akang : Iya gini, aksi. Kalau ke dir. Akademik, ‘pak kami dari tim olimpiade, mau bicara pak!’ Gitu..
Aku : ... Hah?
Akang :  Iya, akang mah ga suka yang kayak turun ke jalan gitu-gitu mending langsung aja. Kan keren gitu tim olimpiade misalkan dateng langsung ke rektor atau dekannya, ngobrol-ngobrol, terus nanti akhirnya mengemukakan kritikan.
Aku : *baru paham*


-          Beberapa bulan yang lalu pas lagi hangat-hangatnya pembicaraan mengenai UKT dan kegalauannya.
Aku : Bu, aku udah nulis surat buat kampus, tentang UKT, tenang we, sopan kok, cuma pengajuan keberatan sama nanya-nanya sesuatu yang masih ganjil. Boleh ya dikirimin?
Ibu : Kemana?
Aku : ke emailnya, udah tahu kok.
Ibu : Bukan kenapa-kenapa, kalau kata ibu mah gini. Emang dede siapa? Jadi mahasiswa aja belum resmi. Cuma calon mahasiswa baru.
Intinya, aku harus menjadi ‘seseorang’ terlebih dahulu.


'Memilih' Dirimu Sendiri

“ Bintang, dimanapun dia, dia tetap bersinar.”
Kata-kata ‘ajaib’ itu kutangkap  dari Teh Ghanis, di sela ‘usaha keras’ untuk mendengarkan ( karena aku duduk paling belakang dan jauh dari sumber suara)
Saat itu aku sedang mengikuti rapat pertama panitia MUMAS, dan Teh Ghanis, aku katakan sedang menjadi motivator kita waktu itu.
Kata-kata diatas itu mengingatkanku pada beberapa bulan lalu ketika aku masih mengenakan seragam putih abu, saat aku masih dalam proses memilih jurusan dan universitas. Saat itu aku mengadakan survei kecil-kecilan pada  beberapa teman-teman sekelasku. Pertanyaan yang kuajukan adalah :
“Lebih baik mana, menjadi emas di toko emas atau menjadi emas di toko perak?”
Tidak. Aku tidak akan memaparkan jawaban hasil surveiku, karena kini aku telah memiliki jawabannya sendiri.
Jawabannya, pertanyaan itu salah.
Mengapa?
Karena kita sebagai manusia tidak bisa memilihnya.
Pertanyaan yang seharusnya diajukan terutama pada dirimu sendiri adalah :
“ Lebih baik mana, menjadi emas atau perak?”
Sekarang, kita punya jawaban masing-masing.
Kita tidak bisa memilih dimana kita ditempatkan. Sama halnya seperti kita tidak bisa memilih dimana kita dilahirkan, di keluarga seperti apa, di lingkungan yang bagaimana. Bagaimanapun, itu kuasa Allah. Namun, satu hal. Hidup adalah pilihan, bukan? Kita berhak memilih untuk petanyaan kedua. Ketika kita sudah memilih. Lakukan hal yang akan membuatmu seperti pilihanmu.
Sedang menjadi ‘apa’ kita sekarang, percayalah suatu saat kita bisa menjadi ‘apa’ yang kita impikan.
Seperti dalam Q.S Ar-Ra’d [13] : 11 yang artinya :
“Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah Menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”
Kita ‘hanya’ perlu melakukan sebuah perubahan, setidaknya bagi kita sendiri. Selamat ‘memilih’ dirimu sendiri!
Nb : Ohya, coba dengarkan lagu Coboy Junior – Terhebat, ada lirik yang mengesankan ;)
“Tak perlu tunggu hebat untuk berani memulai apa yang kau inginkan, hanya perlu memulai untuk menjadi hebat raih yang kau impikan.”