Jujur, free time-ku sebetulnya sudah dimulai
tengah bulan lalu, tepatnya setelah aku melewati Ujian Nasional. Sebuah ‘momen’
yang sukses menyita banyak waktu juga perhatianku selama tiga bulan belakangan
ini. Salah satunya adalah membuatku betul-betul jarang surfing di dunia maya, bahkan hanya membuat satu tweet pun di akun twitter-ku! Kalaupun
aku sedang membuka internet, pasti takkan jauh dengan searching segala hal tetek-bengek mengenai UN, SNMPTN, SBMPTN, ataupun
tugas-tugas sekolah yang semakin mendekati ujian justru semakin bejibun.
Kebiasaan atau hobi
yang akhir-akhir ini telah terabaikan sedang aku susun lagi dan canangkan lagi
dalam diriku. Hati dan pikiranku. Namun dengan tekad tidak melupakan kebiasaan
baik, yang belakangan ini justru mengubah pola pikirku yang Alhamdulillah aku
rasa lebih baik.
Dan kali ini
Alhamdulillah, aku bisa menyentuh blog lagi. Meski memang aku bukan blogger aktif. Namun hal ini setidaknya
seperti mengobati kerinduanku akan menulis. Bersua dengan kata dan pikir yang
tiba singgah, ah, bahkan perasaan!
Tidak, di postingan
ini aku tidak akan membeberkan berbagai keluhanku di masa sulit seorang
pelajar, yakni masa ujian. Karena justru, di
setiap masa sulit selalu terselip rangkaian makna perjuangan. Aku disini
bersyukur atas diizinkan-Nya aku melewati masa-masa itu. Masa ketika Ashar
sangat langka aku berada di rumah atau bahkan sering juga tiba di rumah ketika
adzan Maghrib berkumandang. Lalu, masa ketika aku hanya punya waktu satu-dua
hari di siang hari untuk mengerjakan tugas yang menumpuknya bukan hanya di
depan mata namun juga dalam pikiran. Karena dengan begitu aku akan lebih menghargai waktu senggang :)
Syukur karena belajar
memerangi diri sendiri yang terkadang sangat ingin sekali bermain, fangirling, hang out atau lain sebagainya. Bahkan aku menikmati juga saat tidur
ditemani buku-buku tebal yang harus dipelajari untuk ujian. Kalau berpikir
lebih jauh mungkin banyak teman-temanku seperjuangan disana, yang bahkan tak
mempunyai satu pun buku referensi untuk ujian.
Mengulang-memelajari-memahami-memikirkan-menganalisis-menghafal-mengulang
kembali. Lagi. Seperti siklus. Dari Matematika-Fisika-Kimia-Biologi-Bahasa
Indonesia-Bahasa Inggris. Bahkan untuk berbagai soal rumit, terkadang, untuk
memotivasi diri, aku selalu membayangkan soal itu layaknya kasus yang harus
dipecahkan oleh para detektif, hehe. Sehingga tanpa sadar, aku jatuh cinta
pada belajar. Ya, belajar bukan selalu
apa yang kita sukai. Tapi apapun. Karena aku suka belajar. Dan inilah paradigma
baru.
Saat berbagai ujian
berlangsung pun, aku belajar. Bukan hanya belajar memacu otak kiriku untuk
mengingat materi dan rumus-rumus ujian, namun juga belajar bagaimana menahan
dan mengendalikan ‘perasaan’ dan ‘emosi’ untuk berbagai hal. Mereka –dalam
tubuhku—seolah-olah bersinergi untuk memenangkan ‘kompetisi’ saat ujian.
Bahkan ada beberapa scene dalam momen ini yang mungkin bakal
aku rindukan. Seperti suasana kelas saat dua-satu minggu sebelum ujian
nasional. Yaitu ketika topik ‘selamat pagi’ bernadakan rumus atau soal. Pengayaan
yang justru hikmahnya memperakrabkan teman-teman satu kelas. Juga saat ujian
semakin mendekat. Aku ingat betul, kata-kata Basmallah, semangat, do’a-do’a
memenuhi atmosfer kelas sampai isi sms ataupun chat-room.
Tak lupa, saat ujian
sedetik lagi akan berlangsung. Aku sampaikan kata semangat pada teman-teman
yang memang duduk didekatku. Begitupun mereka. Kita saling mendukung dan
berdo’a. Sama-sama berdoa pada Yang Maha Pengasih, Allah SWT.
Banyak hal-hal
positif yang membekas pada hati dan pikiran yang tak mau aku hilangkan terutama
dalam dimensi belajar. Aku yakin karena setiap apapun pasti ada hikmahnya. Jadi,
tak ada alasan untuk untuk ‘mengutuk’ masa itu kan? J) Karena ini mungkin belum seberapa.
Masih banyak rintangan yang Insya Allah kita taklukan lagi. Tetep menjaga
semangat belajar !!! Keep spirit^^
No comments:
Post a Comment