Aku pernah mengikuti arisan waktu SD. Saat itu, wali kelas ku yang memegang uangnya, dan yang aku tahu, arisan itu sederhana dan singkat. Cuma ngambil sebuah kertas dari tumpukan kertas yang berisi nama calon- calon pemenang. Nama yang tertera pada kertas yang diambil itu adalah pemenangnya. Uangnya diberikan pada pemenang, lalu kita bayar lagi, dan begitu seterusnya dari minggu ke minggu atau bulan ke bulan. Dan tak berlangsung lama, arisan itu berakhir.
Arisan..
Semakin beranjak remaja, entah kenapa kata itu terasa so annoying saat didengar. Mungkin memang karena sugestiku sekarang tentang arisan, identik dengan ibu-ibu girang yang ribut memamerkan ini itu dan tak jauh dari kegiatan gosip. Yeah, girl, gossip!
Okay, memang benar arisan, seperti dalam sinetron-sinetron itu -yang dulu suka ku tonton- tak sedikit. Tapi juga tidak semua.
Such as, ibu-ibu di perumahanku -Perum Sukarindik- include my Mom :)
Karena memenangkan arisan bulan lalu, seperti tradisi di Perum kami -entah hanya di perum kami atau di tempat yang lain juga-, Ibuku harus menjadikan rumahnya -rumah kami- sebagai tempat pertemuan bulan selanjutnya, tepatnya bulan Maret ini.
Dari pagi, kami membersihkan rumah dan mempersiapkan segalanya -makanan ringan, minuman, dan tempat- untuk acara sore itu. Sedikit catatan : Aku ngiler kue yang Ibu beli, dan berharap di akhir acaranya kue itu gak habis :p.
Lalu, well, inilah kali pertama, aku menyaksikan uih,, nggak deh mendengarkan dari lantai dua rumahku, gimana aja sih arisan itu? Ternyata tak seperti dalam sinetron itu, tidak ada pamer ini itu, dan tak ada gosip!
Yang ada, tausiyah, seperti pengajian pada umumnya, dan dibawakan oleh salah satu Ustadzah di Perum.
Dan itu semua, saat itu, mengubah paradigmaku tentang arisan. Yah, kali ini aku menyadari arti penting arisan. A regional social gathering. Mempererat silaturahmi. Itu intinya. Dan gosip atau yang lainnya? Itu tergantung dari : dengan siapa dan niat.
Pertemuan silaturahmi itu penting, apalagi ditambah dengan hal positif lainnya. Dengan arisan sebagai momen-nya. Terutama di perumahan, yang notabene terkesan dingin. Tak mengenal satu sama lain, bahkan sampai tak mengenal tetangganya. Kalau tak ada pertemuan seperti itu, apa kata dunia? Haha, nggak deh.
Tapi bagaimanapun juga, kalau ada suatu hal yang tak diinginkan terjadi di rumah, siapa yang pertama dimintai tolong? Tetangga. Dan warga lain disekitar rumah.
So, arisan, why not? Bukankah cewek-cewek sepertiku juga akan menjadi Ibu-ibu? Kelak, Insya Allah. Jika Allah mengizinkan. Aamiin.
#nb : btw, kue yang aku incer sebelumnya, ternyata habis. Harapannya gak terkabul. Hiks :( Tapi gak bener juga sih yang gitu diharepin haha :D
No comments:
Post a Comment