"Nanti dari sekarang sampai akhir semester ini, kalian ibu beri tugas yaitu membuat puisi, bebas, pokoknya curahan hati kalian.Dan sebanyak-banyaknya, terus nanti ibu umumkan siapa yang paling banyak membuat puisi."
Begitulah kata Ibu Pipih selaku guru pelajaran Bahasa Indonesia disekolahku.
Aku yang ngedengernya, sontak kaget. Pasalnya, aku gak bisa tuh yang namanya bikin puisi, berpuitis, menjadi puisiawati(?). Buktinya, kalau ada tugas bikin puisi padahal cuma disuruh satu, susahnya minta ampun, dan kalau udah jadi hasilnya pasti berantakan, pokoknya lebih buruk dari hasil karya temen-temen lain deh.
Apalagi ini sebanyak-banyaknya. Curahan hati pula. Madesu *masadepansuram* banget deh aku pas saat itu.
Tapi, seiring dengan berjalannya waktu dan berputarnya dunia(?). Aku pun mulai nyoba bikin puisi yang dicurahkan dari hati. Aku mulai menorehkan kata demi kata, baris hingga baris, lalu berbait-bait, dan akhirnya jadilah SEBUAH puisi.
Meski hasilnya gak bagus-bagus amat, masih bagusan si amat #apadeh. Tapi gak ada yang salah kan kalau aku posting disini *ya iyalah orang ini blog aku*.
Api lilin yang belum padam
Aku tetap tak bergeming
Pikiranku masih serupa
Seketika semangatku mulai lenyap
Harapanku mulai terkikis
Aku mulai rapuh
Tak mampu berlari
Aku hanya merangkak
Hingga aku bertanya pada diri ini
Suatu saat ...
Jika api di lilin ini padam
Akankah aku menyalakannya kembali?
Kelak ...
Jika api di lilin ini membara
Mampukah aku menjinakkannya?
Entahlah ..
Hati ini tak memiliki jawabannya
Yang kutahu
Saat ini
Api di lilin ini belum padam
I liked this poem, because it proves that:
"Nothing that can't be, provided we are willing to try and try."
No comments:
Post a Comment